|
“Talas Beneng”
Senin, 04 Maret 2013 20:00
”Mantan Mentan,
Anton Apriyantono tercengang melihat talas beneng bisa sampai 30 kg dan
meminta Badan Litbang Pertanian untuk menelitinya sebagai pangan alternatif.
Gubernur Banten telah mencicipi ”Bubernis”, teknologi BPTP Banten”
Di Kelurahan Juhut,
Kabupaten Pandeglang tumbuh tanaman sejenis Talas yang masyarakat sekitar
menyebutnya sebagai Talas “Beneng” (Besar dan Koneng). Tanaman ini memiliki
umbi yang dapat mencapai berat 20 kg dalam umur 2 tahun. Pengolahan produknya
yang hingga saat ini cenderung konvensional seperti dikukus, digoreng dan
tidak dikomersialisasikan. Komoditas ini merupakan spesifik lokasi sehingga
mempunyai nilai strategi produk pangan lokal untuk ketahanan pangan.
Masyarakat dan pihak
terkait sampai saat ini belum mengetahui nama latin dan karakteristik talas
beneng. Karakterisasi talas beneng dilakukan dengan pengamatan langsung dan
pencocokan data base karakteristik talas-talasan dengan membawa sampel daun,
batang dan umbi talas beneng ke Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong.
Karakterisasi oleh LIPI menghasilkan nama latin talas beneng yaitu Xantoshoma
undipes K. Koch.
Talas Beneng
mempunyai kandungan nutrisi yang cukup baik, yaitu protein 2,01%, karbohidrat
18,30%, lemak 0,27%, pati 15,21% dan kalori sebesar 83,7 kkal. Bahan pangan
dari umbi-umbian ini memiliki potensi sebagai bahan pangan lokal substitusi
beras dan tepung terigu. Kegiatan yang telah dilakukan BPTP
Banten yaitu pengkajian perbaikan mutu keripik talas Beneng dan pengembangan
produk olahan berbahan baku talas Beneng. Teknologi pengolahan keripik talas
diarahkan untuk memperbaiki mutu produk keripik dengan mengurangi rasa gatal
dan menghasilkan penampakan produk keripik yang menarik. Dengan demikian
diharapkan dapat meningkatkan keamanan konsumsi dan penerimaan pasar.
Pengembangan produk
makanan dari talas beneng dilakukan dengan memanfaatkan umbinya, tidak
melalui tepung agar dapat diaplikasikan oleh masyarakat. Umbi talas beneng
yang digunakan dalam bentuk beneng segar yang dilunakkan dengan cara direbus
terlebih dahulu. BPTP Banten melakukan sinkronisasi dengan Badan
Ketahanan Pangan Daerah (BKPD) untuk mengembangkan pangan ini dan membina
kelompok tani Bina Mandiri yang terdiri dari ibu-ibu di Kelurahan
Juhut.
Bahkan
BPTP Banten mendapat bantuan alat dari BKPD berupa alat dan mesin
pengolah beneng (mesin pengiris otomatis, timbangan, oven, mixer, blender dan
alat-alat pendukung lainnya). Pembinaan kelompok yang dilakukan dalam bentuk
pelatihan pengolahan hasil beneng, pengemasan, pemasaran produk dan perbaikan
mutu. Dalam pelatihan pengolahan hasil, petani dikenalkan dengan berbagai
olahan produk dari talas beneng diantaranya Donat Beneng, Bubur Manis Beneng,
Cake Marmer Beneng, Keripik Beneng dan pelatihan penggunaan mesin/alat
pengolah.
Salah satu produk
yang akan dikembangkan sebagai industri rumah tangga adalah keripik talas
beneng. Selama ini masyarakat telah membuat keripik talas beneng, perbaikan
mutu diutamakan untuk mengurangi rasa gatal pada talas atau oksalat dalam
produk dan pengemasan produk. Untuk mengurangi rasa gatal pada produk
keripik, petani dikenalkan dengan proses pencucian yang lama dan perendaman
dalam larutan garam.
Perbaikan pengemasan
produk dapat meningkatkan citra dan harga jual produk. Pengemasan produk
tidak lagi menggunakan plastik biasa yang tipis, tetapi menggunakan kemasan
plastik PP 0.8 dengan menggunakan label. Keripik talas beneng juga dapat
dikemas dalam plastik aluminium foil yang berkesan lebih eksklusif. Untuk
keperluan pameran dan pemasaran kalangan menengah ke atas, keripik talas
beneng dikemas dalam kaleng komposit.
Terkait dengan
pemasaran produk keripik beneng, BPTP Banten telah menjalin komunikasi dengan
pengusaha makanan yang sedang mengembangkan oleh-oleh khas Banten. CV. Rizky
Intan Abadi yang berlokasi di Tangerang dan bersedia menampung produksi
keripik talas beneng untuk dipasarkan disupermarket dan counter-counter
produk oleh-oleh Banten. BPTP Banten diminta untuk membina kelompok industri
rumahtangga untuk menghasilkan produk yang bermutu, aman dan bersih.
Pembinaan dan upaya perbaikan mutu masih terus dilakukan dengan harapan KWT
Bina Mandiri dapat menghasilkan keripik talas beneng yang diterima pasar.
Kegiatan pengkajian
yang telah dilakukan mempunyai dampak yang positif bagi masyarakat di
Kelurahan Juhut khususnya dan masyarakat pada umumnya. Kelurahan Juhut
menjadi lebih dikenal di masyarakat Banten karena memiliki khas sebagai
daerah penghasil talas Beneng. Banyak media massa yang meliput daerah Juhut
terkait dengan Talas Beneng. Artikel tentang talas Beneng telah dimuat di media
cetak lokal, Sinar Tani, Majalah Ekonomi Banten, Trubus dan telah masuk ke
program televisi Koki Cilik di Trans 7. Disajikan pada pertemuan-pertemuan
penting di kantor gubernur, bupati dan acara penting lainnya.
Masyarakat Kelurahan Juhut sudah mulai membudidayakan talas Beneng
sebagai tanaman sela di kebunnya. Talas beneng mempunyai nilai jual,
sebelumnya masyarakat tidak pernah menjual talas Beneng, sekarang talas
beneng dapat di jual dengan harga Rp 1000/kg dan sebagai usaha rumahtangga
untuk meningkatkan pendapatannya.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar