Read more at http://lutfietutor.blogspot.com/2011/11/cara-membuat-css-according-slide.html#v8tbgMZc6H60wjST.99
  • Competion Logo IPB

    Dalam Rangka menyabut Dies Natalis IPB ke-50, Institut Pertanian Bogor (IPB) menyelenggarakan Lomba Logo Natalis ke-50 Tahun, Dengan ini kami memohon kepada Pegawai, Dosen, Mahasiswa turut serta dalam kegiatan lomba pembuatan logo IPB yang kami selenggarakan. lebih jelasnya kunjungi http://ipb.ac.id/ ...

  • IPB in The World

    Institut Pertanian Bogor (IPB), peringkat ke-181. Sejarah perkembangan IPB dimulai dari tahapan embrional (1941-1963), tahap pelahiran dan pertumbuhan (1963-1975), tahap pendewasaan (1975-2000), tahap implementasi otonomi IPB (2000-2005) dan menuju tahap IPB berbasis Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang dimulai pada 2006. Pada 2007, secara embrional IPB mencanangkan diri siap menjadi universitas riset..

  • SLIDE 3 TITLE HERE

    Perpustakaan IPB telah menyelenggarakan Pelatihan Digitalisasi pada tanggal 27 September 2012, yang diikuti oleh pegawai dari tiap departemen (39 orang) yang bertugas mengelola kenaikan pangkat dosen. Pelatihan tersebut dilanjutkan lagi pada tanggal 1 Oktober 2012 dengan peserta yang sama dan materi tentang cara mengunggah karya ilmiah ke Repository IPB. lebih lanjut kunjungi : http://lib.ipb.ac.id/index.php/in?start=6

  • IPB Blogging Day 2012

    IPB Blogging Day 2012 Menjelaskan dan menggambarkan tentang potensi pertanian tropika yang dikemas/ditampilkan dalam satu tulisan inspiratif menarik atau foto blog yang memudahkan viewer mengetahui makna dari pertanian tropika. Syarat dan Ketentuan LombaMengisi formulir pendaftaran secara online (di bawah) info lengkap nya kunjungi : http://www.bloggerbojonegoro.com/lomba-blogging-ipb-blogging-day-2012-check-this-out.html

  • About IPB

    Institut Pertanian Bogor (IPB) didirikan pada tanggal 1 September 1963 sebagai wujud pemikiran yang visioner dari pemimpin bangsa dan mereka yang peduli dengan pendidikan tinggi pertanian agar bangsa besar ini mempunyai perguruan tinggi kelas dunia yang memiliki kompetensi dalam bidang pertanian, biosains, dan berbagai bidang yang terkait. Hal ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan, bioenergi, penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan menjaga lingkungan hidup. Kompetensi IPB tidak terbatas pada aktivitas pertanian on farm semata, melainkan juga off farm yang di dalamnya tercakup agribisnis, agroindustri, agroservices, dan agrowisata.

Jumat, 22 Maret 2013

Tentang As-Syifa Boarding School

01-03-13 Amanah Misi Yayasan As Syifa Al Khoeriyyah, adalah : Mengembangkan lembaga pendidikan unggulan kebanggaan ummat. Bidang Pendidikan & Pengajaran mengejewantahkan amanah misi tersebut, sebagai berikut : Visi (Vision) Membangun peradaban. Visi 2016 Menjadi lembaga mandiri, profesional & terdepan dalam mencetak ggenerasi rabbani. Misi (Mission) Membuat llingkungan lembaga sebagai sarana ttarbiiyah Islamiyah shohihah. Memberdayakan potensi peserta didik untuk mencapai kompetensi AHA (Alim, Hafidz, Amil)*. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan dengan menyenangkan, efisien dan Islami. Membbuat kondisi yang kondusif untuk menjadi guru yang prigel, santun dan kaya. Berupaya menjadi lembaga pendidikan yang profesional, murah dan bermutu. Menempatkan diri sebagai mitra bagi keluarga, masyarakat dan pemerintah.<--more!-->

Senin, 04 Maret 2013

AGRICULTURAL TECHNOLOGIES


world agricultural technologiesTeknik pertanian merupakan pendekatan teknik (engineering) secara luas dalam bidang pertanian yang sangat dibutuhkan untuk melakukan transformasi sumberdaya alam secara efisien dan efektif untuk pemanfaatannya oleh manusia.[rujukan?] Dengan demikian dalam sistematika keilmuan, bidang teknik pertanian tetap bertumpu pada bidang ilmu teknik untuk memcahkan berbagai permasalahan di bidang pertanian. [3]. Terminologi teknik pertanian sebagai padanan Agricultural Engineering diperkenalkan di Indonesia pada paruh 1990-an.[rujukan?] Sebelumnya terminologi yang digunakan lebih sempit, yaitu mekanisasi pertanian yang diadopsi dari Agricultural Mechanization, sejak awal 1990-an bersamaan dengan pengenalan dan penggunaan traktor untuk programintensifikasi pertanian.[rujukan?]

Menurut Saya Tentang Pertanian IPB


Created by : Ahmad Razzaq

"Dari segi teknik mengenai pertanian , IPB memiliki visi mengembangkan ilmu keteknikan dan dapat diterapkan dalam eksplorasi, konversi, pemanfaatan, serta konversi energi terbarukan. Jadi teknik pertanian IPB lebih fokus dalam sektor pasca panen. Bagaimana mengolah hasil pertanian menjadi lebih berkualitas, mulai dari alat-alat pengolahan, perancangan mesin dengan aplikasi argonomika untuk peningkatan kinerja pertanian. Selain alat produksi pengolahan ilmu teknik juga mengembangkan sistem biologik untuk produksi dan pengolahan. Bidang rekayasa sistem informasi, optimasi, dan ultilisasi pun turut dikembangkan demi menunjang sistem biologik. Intinya, teknik pertanian IPB memiliki kompetensi utama yaitu mahasiswa mampu mendesain hal-ha; yang berfokus pada pasca panen." 

Teknologi Pengolahan Sari Buah (Jus) Salak

Teknologi Pengolahan Sari Buah (Jus) Salak



Senin , 04 Maret   2013 20:00

Buah salak (Salaca edulis Reinw.) merupakan salah satu buah unggulan Kabupaten Serang yang  telah memberikan sumbangan terhadap pendapatan keluarga petani. Daerah penghasil Salak di Kabupaten Serang yaitu Kecamatan Gunung Sari dan Waringin Kurung. Buah Salak Serang mempunyai rasa yang khas terutama menonjol dalam rasa Sepet. Rasa Sepet ini menjadikan orang kurang berminat untuk menikmatinya sehingga harga jualnya sangat rendah hanya mencapai Rp. 1000/kg. Sangat kerendah bila dibandingkan harga jual Salak Pondoh segar yang dapat mencapai Rp. 8000/kg. Permasalahan lain yang sering dihadapi petani dalam usahatani salak adalah jatuhnya harga jual salak ketika musim panen hingga mencapai Rp 700/kg. Hal ini semakin merugikan petani salak. Penyebab utamanya adalah produksi meningkat sedangkan permintaan tetap serta belum terbangunnya industri pengolahan di kawasan sentra produksi salak. Sistem penjualan buah salak segar ke pasar semestinya perlu dikurangi dengan melakukan diversifikasi pengolahan.

Kajian Produksi dan Pemanfaatan Pupuk Organik

Kajian Produksi dan Pemanfaatan Pupuk Organik






Senin, 04 Maret   2013 20:00

Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan/atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Secara umum, manfaat pupuk organik adalah : (1) memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, (2) meningkatkan daya simpan dan serap air, (3) memperbaiki kondisi biologi dan kimia tanah, (4) memperkaya unsur hara makro dan mikro, serta (5) tidak mencemari lingkungan serta aman bagi manusia. Berdasarkan hal tersebut, penggunaan pupuk organik diharapkan tanah pertanian menjadi sehat, lestari dan berkelanjutan.

PRIMA TANI : Terobosan Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian

PRIMA TANI : Terobosan Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian 


“Adanya sinkronisasi, koordinasi, intensif, kesungguhan dan keberlanjutan membuat pendapatan petani dan perekonomian wilayah menggeliat"






Senin, 04 Maret 2012 20:00

Untuk mempercepat proses penyampaian dan adopsi teknologi pertanian kepada pengguna, pada tahun 2005 diluncurkan Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Prima Tani). Pelaksanaan Prima Tani pada intinya adalah membangun suatu model percontohan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP). Model AIP diimplementasikan dengan lima pendekatan yaitu agroekosistem, agribisnis,wilayah, kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat. Tahapan pelaksanaan Prima Tani meliputi: perencanaan, pembentukan organisasi pelaksana, sosialisasi program, pelaksanan kegiatan, monitoring dan evaluasi serta koordinasi dan pembinaan. Selanjutnya pelaksanaan kegiatan lapangan terdiri dari survei sumberdaya lahan dan air, pelaksanaan PRA dan baseline survey, penyusunan rancang bangun laboratorium agribisnis serta implementasi inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan. Adopsi inovasi teknologi dalam Prima Tani dilakukan secara langsung dan tidak langsung yaitu melalui gelar teknologi, demplot, temu lapang, sekolah lapang, lokakarya serta penyediaan media informasi dan klinik agribisnis (juknis, majalah, liptan, lefalet, brosur, poster dll).

Diversifikasi Pengolahan Pangan Lokal Banten

Diversifikasi Pengolahan Pangan Lokal Banten




“Talas Beneng”

 Senin, 04 Maret 2013 20:00
”Mantan Mentan, Anton Apriyantono tercengang melihat talas beneng bisa sampai 30 kg dan meminta Badan Litbang Pertanian untuk menelitinya sebagai pangan alternatif. Gubernur Banten  telah mencicipi ”Bubernis”, teknologi BPTP Banten”
Di Kelurahan Juhut, Kabupaten Pandeglang tumbuh tanaman sejenis Talas yang masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Talas “Beneng” (Besar dan Koneng). Tanaman ini memiliki umbi yang dapat mencapai berat 20 kg dalam umur 2 tahun. Pengolahan produknya yang hingga saat ini cenderung konvensional seperti dikukus, digoreng dan tidak dikomersialisasikan. Komoditas ini merupakan spesifik lokasi sehingga mempunyai nilai strategi produk pangan lokal untuk ketahanan pangan.
Masyarakat dan pihak terkait sampai saat ini belum mengetahui nama latin dan karakteristik talas beneng. Karakterisasi talas beneng dilakukan dengan pengamatan langsung dan pencocokan data base karakteristik talas-talasan dengan membawa sampel daun, batang dan umbi talas beneng ke Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong. Karakterisasi oleh LIPI menghasilkan nama latin talas beneng yaitu Xantoshoma undipes K. Koch.

Tanam Legowo diterapkan secara luas oleh petani

Komponen Utama Teknologi PTT Padi Sawah




Tanam Legowo diterapkan secara luas oleh petani

 Senin, 04 Maret 2013 20:00
“Anjuran Gubernur dan Bupati Lebak untuk tanam sistem tanju/legowo”

Sasaran pembangunan pertanian salah satunya adalah pengembangan sistem dan usaha pertanian yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Namun dalam proses pengembangannya dibutuhkan dukungan teknologi yang tepat, kemampuan sumberdaya manusia dan alam serta adanya dukungan modal. Untuk itu pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) diimplementasikan sebagai  hasil  perumusan identifikasi permasalahan usahatani padi. PTT sebagai suatu pendekatan telah diimplementasikan sejak tahun 2006 melalui berbagai program pengkajian dan diseminasi di  BPTP Banten seperti perbanyakan benih, PRIMA TANI, SL-PTT, FEATI serta program lainnya melalui demplot di lokasi-lokasi yang berbeda.
Provinsi Banten sebagai sentra produksi padi mampu terus meningkatkan produktivitas padi dengan kisaran produktivitas 5,2-6,2 ton/ha mampu menghasilkan produksi 1,8 juta ton GKG pada tahun 2009. Dengan produksi tersebut, Banten mampu mencapai swasembada beras, bahkan surplus 66.823 ton setara beras.  Komponen utama yang diimplementasikan dan mampu diadopsi oleh masyarakat petani adalah penggunaan varietas unggul baru (VUB), penggunaan bibit muda (18-21 HSS), dan sistem tanam legowo. Penggunaan     VUB umumnya berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama penyakit utama dan toleran dengan lingkungan setempat. Saat ini petani mulai menggunakan varietas padi yang cukup beragam dan memiliki potensi hasil tinggi. Jika dahulu varietas yang dipilih dan disukai oleh petani adalah IR-64, saat ini petani sudah berubah, mengikuti perkembangan varietas padi terbaru.  Petani dengan mudah mendapatkan informasi tentang hal tersebut dari melalui BPTP Banten. Petani sudah banyak yang menggunakan varietas Ciherang, Mekonga, Cigeulis, Cibogo, dan lainnya. Bahkan  petani sudah banyak yang menggunakan VUB terbaru seperti Inpari -1, Inpari-2, Inpari-3 sampai Inpari 10. Inpari-13 saat ini telah pula disosialisasikan dalam penggunaanya karena memiliki potensi hasil tinggi dan memiliki ketahanan terhadap WBC (wereng batang coklat).

Pengembangan Hijauan untuk Kampung Ternak Domba

Pengembangan Hijauan untuk Kampung Ternak Domba





  
Senin, 04 Mareti 2013 20:00

“Potensi, Kekompakan, Kelembagaan yang kuat dan sinergitas antara instansi/lembaga merupakan kunci sukses pembentukan kampung ternak domba. Bahkan Wamentan pun investasi domba sebanyak 21 ekor.”

Kampung ternak domba dibentuk sebagai wujud keprihatinan terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Tujuan utama dari program ini yaitu untuk membentuk masyarakat mandiri sejahtera dengan cara menciptakan kegiatan atau usaha lain yang dapat melestarikan hutan lindung di Kabupaten Pandeglang. Pencapaian tujuan ini dilakukan dengan cara memberdayakan masyarakat-tani melalui peran kelembagaan dan dukungan potensi yang ada di lokasi.
Tersebutlah Kp.Cinyurup sebagai kampung ternak domba di Kabupaten Pandeglang. Sejak tahun 2009, tempat ini telah ditetapkan sebagai wilayah percontohan pengembangan ternak domba terpadu. Lokasi ini berada di sekitar kawasan hutan lindung Gunung Karang tepatnya di Kp.Cinyurup, Kelurahan Juhut, Kecamatan Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang. Pemilihan lokasi pengembangan ternak domba ini berdasarkan potensi yang dimiliki seperti sumber pakan hijauan yang melimpah, pengalaman beternak domba, peluang pasar yang terbuka dan kelembagaan kelompoktani yang berjalan baik. Selain itu, rehabilitasi hutan lindung dan pengalihan usahatani merambah hutan menjadi sasaran akhir dari kegiatan ini. Bagi masyarakat Kp.Cinyurup saat ini memelihara ternak domba merupakan salah satu alternatif untuk menambah pendapatan keluarga. Kini tercatat sebanyak 76 KK dari 317 KK adalah peternak domba.
BPTP Banten selama tahun 2009 telah berhasil mengidentifikasi beberapa jenis hijauan yang terdapat di lokasi dan berhasil mengintroduksi dan mengembangkan jenis hijauan unggul untuk mendukung pengembangan ternak domba. Jenis hijauan pakan yang ada sangat beragam dan banyak jenisnya. Terdapat 7 jenis rumput dan 28 jenis dedaunan sebagai sumber pakan yang teridentifikasi. Dampak dari kegiatan ini yaitu telah berkembangnya jenis rumput unggul di lahan petani dan perhutani seperti rumput gajah seluas 6,5 ha dan  leguminose kaliandra seluas 20 ha. Selain itu jumlah petani kooperator yang mengadopsi inovasi sekitar 60% dari jumlah peternak.
Dengan  diterapkannya  inovasi  budidaya hijauan pakan ternak maka waktu mencari rumput menjadi lebih efesien. Menurut mereka waktu mencari rumput/pakan ternak menjadi lebih singkat yaitu 15 menit dari sebelumnya sekitar 1 jam. Berdasarkan luas lahan hijauan yang ada diperkirakan 20.000 – 30.000 ekor ternak domba bisa tertampung di lokasi ini.
Pahit manisnya beternak domba telah dirasakan oleh mereka. Berawal dari 275 ekor domba yang tercatat awal tahun 2009, kini telah bertambah  menjadi 1500 ekor dengan penambahan kelompok ternak dari 5 menjadi 9 kelompok. Hal ini tidak lepas dari peran serta pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan ternak domba berupa bantuan ternak domba sebanyak 204 ekor dan dukungan teknis lainnya. Banyak investor yang terlibat termasuk Wamentan telah menginvestasikan domba sebanyak 21 ekor.
Selain itu dengan adanya kelembagaan kelompoktani yang dinamis sangat mendukung bagi pengembangan hijauan pakan ternak dan pertambahan populasi ternak domba. Kini mereka sangat bergairah untuk mengembangkan jenis rumput unggul (rumput gajah) sebagai sumber pakan di lahan-lahan mereka.
Timbulnya kesadaran masyarakat untuk berkelompok dimulai pada tahun 2006 dengan membentuk kelompok tani 'Karya Mandiri' dengan jumlah anggota yang masih sedikit. Kelompok tani ini dijadikan sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan usahatani mereka. Dalam perkembangannya, keanggotaan kelompok bertambah banyak sehingga sekarang telah terbentuk sebanyak 4 kelompok tani yaitu kelompok tani Karya Mandiri, Taruna Mandiri, Jaya Mandiri dan Bina Mandiri. Kegiatan pertemuan rutin dilakukan setiap minggu yaitu pada hari Kamis dengan didampingi oleh petugas lapang (PPL) dan petugas dari instansi lain (dinas). Dalam pertemuan tersebut dibahas mengenai permasalahan, teknis budidaya, rencana pengembangan, dan pemasaran usahatani-ternak. Dalam pembinaan kelompok kami selalu menerapkan kemandirian kelompok dalam setiap kegiatannya yaitu dengan cara meningkatkan kegiatan swadaya dalam kelompok.
Untuk mendukung pengembangan ternak domba tersebut maka disusunlah suatu sistem kerjasama yang diterapkan menggunakan sistem perguliran yang diatur melalui suatu perjanjian dan difasilitasi oleh Disnakkeswan Kabupaten Pandeglang. Dimana setiap 1 ekor ternak yang diterima, peternak berkewajiban mengembalikan 2 ekor ternak dengan kondisi dan umur yang sama dengan ternak yang diterima pertama kali untuk digulirkan selama 3 tahun pemeliharaan.


Sampai saat ini  telah berhasil digulirkan 13 ekor domba kepada peternak lain dan telah terjadi pengembangan ternak di 2 tempat lainnya yaitu Kp.Ciodeng dan Kp.Balangendong. Adapun jenis domba yang dikembangkan yaitu domba Garut dan domba komposit (komposit Sumatera, komposit Garut dan Barbados Cross). Ketiga jenis domba komposit tersebut merupakan hasil inovasi teknologi dari Balitnak, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian RI. Adanya perkembangan yang positif yang terlihat dari pertambahan populasi ternak domba, dukungan sumber pakan ternak, dukungan pemerintah dan keinginan masyarakat untuk maju, maka pengembangan ternak domba di kampung ternak ini sangat mungkin untuk diwujudkan. Untuk mempersiapkan pertambahan populasi domba maka lebih lanjut perlu adanya pengembangan tanaman hijauan pakan ternak (rumput/leguminose pohon) di lahan lain dengan konsep konservas
Sadar akan keterbatasan pemerintah dalam pembiayaan dan pembinaan maka diharapkan ada peran pihak lain untuk mendukung keberhasilan pembangunan ini. Guna mempercepat pengembangan ternak domba di lokasi kami mengundang peran swasta baik perorangan maupun kelompok atau lembaga pemodal yang difasilitasi oleh lembaga pengelola melalui konsep kerjasama yang diatur dengan suatu perjanjian yang saling menguntungkan. Konsep kerjasama yang kami tawarkan yaitu pemberdayaan masyarakat dan lingkungan bagi kesejahteraan bersama. Sampai saat ini sudah ada beberapa investor swasta perorangan yang akan menyimpan investasi di lokasi.
Keberhasilan pembentukan kampung ternak domba terpadu tidak terlepas dari peran serta kelembagaan yang mulai diinisiasikan sejak awal dengan membentuk Pokja Kampung Ternak yang melibatkan Balitnak, BPTP Banten, Distanak Provinsi, Dishutbun Provinsi, Disnakeswan Kabupaten Pandeglang, Perum Perhutani, LSM Kopling, Kelurahan Juhut dan kelompok masyarakat. Melalui proses yang panjang dan berliku, sosialisasi terus dilakukan untuk mendapatkan dukungan yang lebih luas dari stake holder yang berkepentingan bagi pengembangan kampung ternak domba ini. Kini pengembangan kampung ternak domba terpadu merupakan kegiatan sinergitas beberapa instansi pemerintah. Sampai saat ini tercatat ada 14 lembaga/instansi yang berperan didalamnya seperti Balitnak, BPTP Banten, Distanak Provinsi Banten, BP3KH Provinsi Banten, BKPD Provinsi Banten, Balitbangda Provinsi Banten, Perum Perhutani Provinsi Banten, Dishutbun Provinsi Banten, Disnakkeswan Kabupaten Pandeglang, Distanbun Kabupaten Pandeglang, Kantor Penyuluh dan Ketahanan  Pangan  Kabupaten  Pandeglang,  LSM Kopling, Kelurahan Juhut dan Bank Indonesia.

Tidak hanya itu, wilayah ini juga dijadikan tempat studi banding  petani Banten dan luar Banten. Kunjungan Wamentan, Wagub, Bupati, DPRD, SKPD Provinsi/Kab dan masyarakat lainnya. Sekalian dijadikan arena outbond karena lokasinya yang menanjak dan jalannya jelek, namun sekarang sudah ada perbaikan jalan. BI Kab. Serang sedang melakukan penelitian pemasaran dan pola pembiayaan pengembangan kampung ternak domba ini.
Dengan mempertahankan proses yang dinamis selama ini serta adanya dukungan pendampingan dan pembinaan oleh petugas, Lurah Juhut Aan Suwandi berkeyakinan bahwa pada tahun 2013 Kelurahan Juhut akan menjadi daerah yang mandiri sejahtera. Kami harapkan dengan adanya dukungan dan keterlibatan berbagai pihak dalam pembangunan melalui pemberdayaan dapat mempercepat terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Semoga semua yang dicita-citakan bersama dapat terwujud dan terlaksana dengan baik.

Teknologi Pembibitan dan Pengolahan Aren Menjadi Triger Sistem Agribisnis Aren di Provinsi Banten

Teknologi Pembibitan dan Pengolahan Aren Menjadi Triger Sistem Agribisnis Aren di Provinsi Banten




Oleh: Kardiyono,STP.MSi dan Syahrizal Mutakin, STP
 Senin, 04 Maret 2013 20:00
“Permintaan bibit dan gula aren terus meningkat setelah Gapoktan mandiri mendapat binaan dan sentuhan teknologi dari  BPTP Banten”
Tanaman aren (Arenga pinnata Merr) merupakan  salah satu komoditas unggulan di Provinsi Banten serta sebagai sumber ekonomi 13.000 orang petani. luas tanaman aren di Provinsi Banten lebih kurang 1.348 ha yang tersebar di kabupaten Lebak dan Pandeglang.  Jenis panaman palma ini mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki oleh tananam lain yaitu (a) mengandung kadar gula tinggi (10 - 15%), (b) tanaman mampu tumbuh pada kemiringan lebih 40º dan dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah (c)  seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai jual seperti ijuk untuk penjernihan air, batang untuk dibuat pati (orang banten menyebutnya aci), buah untuk dibuat kolang-kaling dan nira untuk dijadikan gula. Umumnya bagian tanaman yang dimanfaatkan secara terus menerus yaitu gula merah baik yang berbentuk gula cetak maupun gula semut. Sedangkan bagian lain dimanfaatkan pada waktu tertentu seperti kolang kaling pada saat hari raya idul fitri, batang  untuk dijadikan  aci.
Pertambahan luas areal atau populasi tanaman aren setiap tahun tergolong rendah (< 5%) demikian juga dengan produksi gula yang dihasilkan (1.217 ton per tahun). Gula aren yang dihasilkan untuk memenuhi permintaan lokal banten dan Jakarta serta sebagian kecil untuk eksport. Permintaan gula terus mengalami peningkatan tetapi sebaliknya produktivitas cenderung stagnan.  Konsumen gula semut cenderung mengalami peningkatan yang sangat tinggi baik baik pasar lokal (super market) maupun ekport. Dengan demikian peluang agribisnis aren sangat prospektif dan perlu didukung agar dapat memberikan keuntungan bagi petani dan pelaku usaha lainnya. Beberapa usaha yang dilakukan BPTP Banten untuk mendorong pengembangan agribisnis aren adalah melakukan pengkajian di Kabupaten Lebak pada aspek (1) pembibitan tanaman aren (2) teknologi penanganan pasca panen dan pengolahan gula.
Teknologi Pembibitan Tanaman Aren
Usahatani tanaman aren dilakukan masih bersifat tradisional terlihat dari cara penyediaan bibit dan penanaman aren. Tanaman aren yang tumbuh bukan ditanam oleh petani melainkan dilakukan oleh binatang ketika memakan biji aren. Oleh karena itu tanaman tumbuh menjadi tidak teratur dengan jumlah tanaman bervariasi antara 10 – 20 pohon per hektar. Rendahnya jumlah tanaman setiap hektar berpengaruh terhadap kemampuan penyadapan setiap petani. Saat petani mampu menyadap nira aren maksimal 10 tanaman per hari.  Perbaikan cara budidaya dari tradisional yang tergantung dari binatang ke arah lebih maju  diharapkan dapat meningkatkan produksi aren dan efesiensi usahatani aren. Idealnya jumlah tanaman setiap hektar berkisar 70 – 100 pohon sehingga mempu menyadap nira 30 pohon / hari. Salah satu langkah yang dilakukan untuk merubah cara budidaya tradisional yaitu dengan melakukan introduksi teknologi pembibitan kepada petani aren.
Teknologi Pembibitan tanaman aren meliputi seleksi buah aren dari tanaman unggul, pelunakan kulit aren dengan diperam, pengupasan kulit, persemaian biji, dan penanaman pada polybag. Pembibitan aren membutuhkan waktu sekitar 1 tahun dan kemudian tanaman siap untuk di pindahkan ke lapangan. Teknologi pembibitan aren yang diintroduksikan kepada petani telah diterapkan Gapoktan Mandiri, Desa Barunai Kecamatan Cihara Kabupaten Lebak. kegiatan pembibitan telah membuka pemikiran petani dalam usahatani aren yang bersifat tradisional ke arah lebih maju. Melalui pembibitan populasi tanaman aren per hektar mengalami peningkatan dari 10 – 20 pohon diarahkan menjadi 70 – 100 pohon. Dengan demikian ke depan akan terjadi peningkatan produksi gula dan efisiensi tenaga kerja dalam penyadapan. Sesuai dengan sasaran pengkajian  Gapoktan Mandiri berhasil membuka usaha pembibitan aren dalam rangka pemenuhan kebutuhan bibit aren yang di programkan pemerintah. Bibit aren hasil pembibtan gapoktan telah digunakan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Banten  untuk pengembangan aren di Kabupaten Lebak.  Pembibitan aren di gapoktan juga telah mendorong beberapa unit kerja untuk dijadikan lokasi studi antara lain  Balai Latihan  Pegawai Kehutanan Sumatera Utara.
Teknologi Pasca Panen dan Pengolahan Aren
Salah satu permasalahan pada pengolahan gula aren antara lain rendahnya mutu nira karena belum efektifnya bahan pengawet yang di gunakan pada penyadapan sehingga mutu gula yang dihasilkan masuk katagori sedang hingga rendah. Berkaitan dengan hal tersebut maka dilakukan pengkajian penggunaan bahan pengawet mnggunakan asap cair dan melakukan inovasi penambahan jahe pada pembuatan gula semut. Pengawetan nira dengan menggunakan asap cair merupakan alternatif guna penyediaan pengawet alami untuk menggantikan akar kawao, kulit manggis yang jumlahnya semakin terbatas. Hasil penelitian menunjukan bahwa asap cair memiliki kemampuan sebagai pengawet yang cukup prospektif terlihat dari mutu nira hasil penyadapan. Jika mutu nira tinggi maka  gula yang dihasilkan akan bermutu tinggi pula.
Petani merespon cukup tinggi terhadap penggunaan asap cair sebagai bahan pengawet karena dapat mempertahankan mutu nira dan asap cair dapat diproduksi sendiri dengan mengolah tempurung yang tersedia cukup melimpah kawasan pengkajian. Gula  yang dihasilkan dengan menggunakan asap cair memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan bahan pengawet yang biasa digunakan ditandai dengan warna, kekerasan dan kadar gula.  Inovasi teknologi pembuatan gula semut dengan penambahan jahe telah memberikan harapan untuk meningkatkan keuntungan dari usahatani gula semut jahe.
Produk hasil inovasi telah di promosilkan pada berbagai even pameran baik lokal di Provinsi Banten maupun di Jakarta (Jakarta covensen center) dalam rangka membuka pasar dan jalinan usaha kemitraan juga kunjungan Gubernur dan Bupati. Respon pengunjung sangat tinggi terhadap inovasi teknologi hasil pengolahan gula aren dengan indikator meningkatnya pesanan kebutuhan pada mitra yang dilakukan melalui kerjasama dengan Gapoktan. Sinergitas terjadi dengan BKPD Prov. Banten dengan menjadikan lokasi ini sebagai desa Mandiri Pangan, dan Dinas Perkebunan memfasilitasi peralatan pembibitan dan pasca panen aren.

Es Krim dari Tempe, Segar dan Bergizi



Es Krim dari Tempe, Segar dan Bergizi



Senin, 04 Maret 2013 20:00
"Tempe" merupakan makanan yang kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Bahkan berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika, untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif. Namun, bagaimana jika tempe diolah menjadi es krim?

Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Serpong, Agustine Susilowati, telah melakukan sebuah inovasi dengan membuat es krim yang berbahan dasar tempe. Es krim yang dinamakan Fit- es Healthy Ice Cream itu, menginovasikan es krim sebagai produk pangan fungsional.

"Produk pangan fungsional artinya dilihat dari sudut pandang makanan yang baik tidak hanya dari kandungan gizinya saja, tapi juga harus ada bioaktif yang menunjang pencegahan penyakit. Sedangkan tempe sangat kaya akan zat bioaktif, maka jika kita komposisikan sebagai es krim cukup bermanfaat bagi yang mengkonsumsinya," jelas Agustine dalam acara LIPI Expo 2011 di Hotel Bidakara, Pancoran Jakarta Selatan, beberapa hari lalu.

Agustine mengatakan, pemilihan "tempe" untuk dijadikan es krim karena tempe merupakan sumber protein dan nabati terbaik yang dihasilkan melalui proses fermentasi kacang-kacangan (kedelai) dan merupakan makanan yang potensial.

"Tempe" merupakan makanan tradisional yang telah menjadi bagian keseharian kita, mudah diperoleh, familiar dan cukup murah. Lalu masa simpannya pendek (2-3 hari), dengan menggunakannya untuk produk pangan maka akan memperluas jangkauan pemasaran dan menaikkan nilai ekonomiknya," jelas Agustine.

Agustine menambahkan bahwa kelebihan "tempe" juga mampu memberikan kemudahan daya cerna kepada yang mengkonsumsi. Lalu juga mempunyai sifat anti oksidan (isoflavon) dan bersifat hipokolesterolemik atau menurunkan lipid darah.

"Zat anti bakterinya juga dapat memperkecil ruang infeksi, juga mengandung vitamin B 12, B2, dan B3, serta 8 macam asam amino esensial, lemak tidak jenuh dan serat makanan yang tinggi, juga anti kanker," tambah Agustine.

Sedangkan alasan kenapa memilih media es krim, bukan coklat atau permen, Agustine mengatakan es krim merupakan suatu produk makanan yang disukai oleh semua orang dalam seluruh tingkatan usia. Kelezatannya menjadikan makanan tersebut tidak saja berefek pada kesehatan namun juga pada efek psikologis.

"Salah satu makanan beku yang disebut es krim dapat dipergunakan sebagai makanan pencuci mulut, biasanya terbuat dengan bahan baku utama susu yang dicampur dengan lemak (nabati atau hewani), bahan pemantap/penstabil gula atau pemanis lainnya".

"Pada umumnya protein nabati dinilai memiliki rasa dan warna, sedangkan beberapa kelebihan lain dibandingkan dengan protein hewani adalah dari sisi harga yang lebih murah dan dari kesehatan resiko terhadap penyakit degenaratif lebih rendah, karena mengandung lebih banyak asam lemak tidak jenuh," jelas Agustine. (*/TribunNews)

Sabtu, 02 Maret 2013

Tahap Pendewasaan (1975-2000)

Awal kurun waktu tahap pendewasaan ini ditandai dengan dosen IPB yang kembali dari tugas belajar di luar negeri, masa bakti ke dua Prof.Dr.Ir.A.M. Satari selaku Rektor IPB, serta reboisasi lahan gundul yang kini menjadi Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi. 

Memasuki pergantian kepemimpinan Rektor IPB dari Prof.Dr.Ir.A.M. Satari ke Prof.Dr.Ir.H. Andi Hakim Nasution. Pada tahun 1978, IPB mengembangkan kerjasama tahap pertama (1979-1983) dengan University Wiscouncin di bidang peningkatan kemampuan tenaga pengajar, khususnya di bidang ilmu-ilmu lingkungan dan ilmu gizi, sehingga pada tahun 1981 lahir Fakultas Politeknik Pertanian. 

Tahap Embrional (1941-1963)


Institut Pertanian Bogor
Menuju Universitas Riset Embrional 2007

Pada tanggal 1 September 2003 Institut Pertanian Bogor (IPB) genap berusia 40 tahun. Sejarah perkembangan IPB dimulai dari tahapan embrional (1941-1963), tahap pelahiran dan pertumbuhan (1963-1975), tahap pendewasaan (1975-2000), tahap implementasi otonomi IPB (2000-2005) dan menuju tahap IPB berbasis Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang akan dimulai pada tahun 2006. Pada tahun 2007 secara embrional IPB diharapkan siap manjadi universitas riset.

soekarnokampus bswisuda
First break ground us function by  Ir. Soekarno
Campus IPB Baranangsiang, Bogor
Graduation in the Past

Tahap Pelahiran dan Pertumbuhan (1963-1975)


Tahap pelahiran dan pertumbuhan ditandai dengan berdirinya IPB pada tanggal 1 September 1963 berdasarkan keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) No. 92/1963 yang kemudian disyahkan oleh Presiden RI Pertama dengan Keputusan No. 279/1965. Pada saat itu, dua fakultas di Bogor yang berada dalam naungan UI berkembang menjadi 5 fakultas, yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Perikanan, Fakultas Peternakan dan Fakultas Kehutanan. Pada tahun 1964, lahir Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian.

Walaupun lahirnya IPB berbarengan dengan gemuruh perkembangan politik pra G30S/PKI yang mempengaruhi kelancaran kegiatan akademik, tetapi IPB tetap mampu membuat terobosan penting; Diantaranya adalah tercetusnya gagasan atau konsep BIMAS-SSBM pada tahun 1963-1964 dalam bentuk introduksi inovasi pengelolan sarana produksi guna meningkatkan produktivitas usaha tani padi. Gagasan ini selanjutnya dialih-kelola oleh pemerintah yang pada tahun 1966-1967 diwujudkan dalam bentuk panca usaha-tani untuk menyebarluaskan padi IR-5 dan IR-6. Kegiatan ini telah menghantarkan Indonesia swasembada beras, sehingga pada tahun 1986 FAO menyematkan medali penghargaan kepada Presiden Soeharto di Roma Eropa.

ipbipb
Rectorate Building Campus IPB Darmaga
Most of us function, architecture department triangle

Tahap Anatomi


rof. Dr. Ir. Ahmad Ansori Mattjik, M.Sc merupakan Rektor IPB yang pertama dipilih dalam mekanisme IPB sebagai BHMN Rektor dipilih oleh MWA untuk masa bakti 2003-2007 dengan program kerja utama untuk mewujudkan academic excellent dan generating income excellent, sehingga diharapkan mampu menghantarkan IPB sebagai universitas riset yang secara embrional terwujud pada tahun 2007.

Dr. Ir. H. Herry Suhardiyanto, M.Sc. merupakan Rektor IPB yang dipilih melalui Pemilihan Raya IPB BHMN sebagai Rektor yang dipilih oleh MWA untuk masa bakti 2008-2013 dengan program kerja utama untuk Menyelaraskan Mosaik Transformasi IPB menuju Research based Entrepreneurial University Kelas Dunia dengan Kepemimpinan yang Melayani dan Terpercaya.

Kehidupan Kampus


Gerbang Selamat datang di bumi Kampus IPB Darmaga adalah suguhan pertama bagi mahasiswa IPB yang akan kuliah di Darmaga. Kampus ini terletak di wilayah Barat perbatasan Kota Bogor dan Kabupaten Bogor dan dikelilingi oleh 14 desa lingkar kampus yang memiliki sekitar 1300 rumah kontrakan/indekos untuk dihuni hampir 25.000 mahasiswa IPB.

Bagi mahasiswa baru IPB, soal mencari hunian tidak perlu khawatir. Karena pada tahun pertama disediakan student dormitory dengan kapasitas 3000 orang putra dan putri. Berdekatan dengan dormitory tersebut tersedia kantin, cafeteria, rumah makan, wartel, rental computer, apotik dan kios/toko untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
<!--more>
Asrama mahasiswa tidak sekedar untuk tempat tinggal, tetapi yang lebih penting adalah merupakan wahana program pembinaan akademik dan multibudaya. Program ini dimaksudkan untuk mempermudah mahasiswa beradaptasi dengan kehidupan kampus, dunia kemahasiswaan dan mengasah kemampuan soft skill, seperti dalam berkomunikasi, berorgansiasi, dan memahami kemajemukan. Untuk tujuan itu, maka Student Dormitory Tingkat Persiapan Bersama tersebut dilengkapi dengan organisasi pembinaan yang disebut Badan Pengelola Program Akademik, Multi Budaya dan Asrama TPB-IPB, yang didalamnya terdapat Kepala Asrama, Manajer Unit dan Kakak Asrama. Kakak Asrama adalah kakak kelas yang tinggal di Asrama TPB untuk membantu mahasiswa menghadapi masalah-masalah akademik dan non-akademik.

Organisasi IPB


Sesuai dengan PP No. 154 Tahun 2000, organisasi IPB terdiri dari majelis Wali Amanat, Senat Akademik, Dewan Audit, Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, Ketua Lembaga, Sekretaris Lembaga, Direktur dan Kepala Sub-direktorat. Selain itu, IPB juga mempunyai direktur perpustakaan dan pimpinan unsur penunjang akademik lainnya yaitu laboratorium, bengkel, studio, pusat informasi, kebun percobaan dan unit keamanan serta bentuk lain yang dianggap perlu. IPB juga memiliki satuan usaha komersial yang pimpinannya diangkat dan diberhentikan oleh Rektor, serta bertanggungjawab kepada Rektor.