|
Untuk mempercepat
proses penyampaian dan adopsi teknologi pertanian kepada pengguna, pada tahun
2005 diluncurkan Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi
Pertanian (Prima Tani). Pelaksanaan Prima Tani pada intinya adalah membangun
suatu model percontohan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP). Model AIP
diimplementasikan dengan lima pendekatan yaitu agroekosistem,
agribisnis,wilayah, kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat. Tahapan
pelaksanaan Prima Tani meliputi: perencanaan, pembentukan organisasi
pelaksana, sosialisasi program, pelaksanan kegiatan, monitoring dan evaluasi
serta koordinasi dan pembinaan. Selanjutnya pelaksanaan kegiatan lapangan terdiri
dari survei sumberdaya lahan dan air, pelaksanaan PRA dan baseline survey,
penyusunan rancang bangun laboratorium agribisnis serta implementasi inovasi
teknologi dan inovasi kelembagaan. Adopsi inovasi teknologi dalam Prima Tani
dilakukan secara langsung dan tidak langsung yaitu melalui gelar teknologi,
demplot, temu lapang, sekolah lapang, lokakarya serta penyediaan media
informasi dan klinik agribisnis (juknis, majalah, liptan, lefalet, brosur,
poster dll).
Di Provinsi Banten,
Prima Tani pertama kali dilaksanakan pada tahun 2006, dimana sebagai lokasi
laboratorium agribisnis adalah Desa Teras, Kecamatan Carenang-Kabupaten
Serang dengan komoditas unggulan adalah padi sawah dan itik petelur. Pada
tahun 2007 terjadi penambahan 3 lokasi baru yaitu Desa Bojongleles, Kecamatan
Cibadak-Kabupaten Lebak; Desa Sukaratu, Kecamatan Pandeglang-Kabupaten
Pandeglang dan Desa Gempolsari, Kecamatan Sepatan-Kabupaten Tangerang.
Pelaksanaan Prima Tani pada setiap lokasi cukup berdampak terhadap kinerja
inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan, peningkatan pendapatan usahatani
dan rumah tangga petani serta ekonomi pedesaan.
Pelaksanaan Prima
Tani di Kab. Serang cukup berdampak terhadap kinerja inovasi teknologi dan
kelembagaan, peningkatan pendapatan usahatani dan rumah tangga petani serta
ekonomi pedesaan. Pada usahatani padi sawah melalui pendekatan PTT,
produktivitas meningkat dari 5,20 ton/ha menjadi 5,65-7,20 ton/ha, mentimun
dari 15,0 ton/ha menjadi 16,2-17,5 ton/ha, kacang panjang dari 8,2 ton/ha
menjadi 9,7-10,2 ton/ha, kacang tanah 2,18 - 3,53
ton/ha, kedelai 1,41 - 2,28 ton/ha, kacang hijau 1,41 ton/ha dan melon
0,5-2,7 kg/tanaman. Produktivitas itik meningkat dari 125 butir/ekor/tahun
menjadi 165-170 butir/ekor/tahun, sedangkan ternak domba dari 40 ekor menjadi
116 ekor.
Pendapatan rumah
tangga petani meningkat dari Rp. 8.679.989 menjadi Rp. 15.430.189 (77,8 %),
sedangkan dampak inovasi teknologi terhadap ekonomi pedesaan mencapai Rp.
2.126.802.500. Selain itu, produksi padi sawah meningkat sebesar 20,6 % dan
nilainya 48,4 %. Selanjutnya Klinik Agribisnis sebagai elemen kelembagaan AIP
sudah berfungsi sebagai pelayanan jasa konsultasi dan diseminasi serta
penyediaan berbagai media informasi tercetak (juknis, brosur, poster,
leaflet, liptan dll).
Pelakanaan Prima
Tani di Kab.Tangerang juga berdampak pada kinerja inovasi teknologi dan
kelembagaan serta pendapatan usahatani dan rumah tangga petani. Inovasi padi
sawah melalui pendekatan PTT, produktivitas yang dicapai berkisar antara
4,78-7,67 ton/ha (sebelumnya 3,96 ton/ha), sedangkan produktivitas sayuran
kangkung adalah 4,94-5,48 to/ha, bayam 3,97-6,0 ton/ha dan sawi 4,99-7,10
ton/ha. Pelaksanaan Prima Tani meningkatkan pendapatan rumah tangga petani
dari Rp. 18.934.853 menjadi Rp. 21.595.813 atau meningkat sebesar Rp.
2.660.960,- (14,05 %).
Inovasi teknologi
yang diimplementasikan selama pelaksanaan Prima Tani di Kab. lebak : PTT padi
sawah, budidaya mentimun, budidaya kangkung dan budidaya ternak domba. Pada
implementasi PTT padi sawah, produktivitas padi pada lahan sawah irigasi
meningkat dari 5,6 ton/ha menjadi 6,2 ton/ha, sedangkan pada lahan sawah
tadah hujan dari 4,2 ton/ha menjadi 4,9 ton/ha. Selanjutnya pada budidaya
mentimun, peningkatan produktivitas dari 18 ton/ha menjadi 18,3 ton/ha,
sedangkan pada budidaya kangkung dipeoleh produktivitas 3 ton/ha dan benih
sebanyak 21 kg. Lain halnya dengan budidaya ternak domba yang pada awalnya
sebanyak 30 ekor, hanya tinggal 10 ekor. Berdasarkan hasil analisis,
pelaksanaan Prima Tani di Desa Bojongleles-Kecamatan Cibadak mampu
meningkatkan pendapatan rumah tangga petani dari Rp. 9.224.500 menjadi Rp.
13.632.557,- atau bertambah sebesar Rp. 4.408.057,- (47,9 %).
Kinerja dan dampak
pelaksanaan Prima Tani di Kab. Pandeglang yang cukup menonjol adalah inovasi
usahatani padi sawah melalui pendekatan PTT, dimana terjadi peningkatan
produktivitas padi inbrida dari 5,51 ton/ha (4,92-6,12 ton/ha) menjadi 4,97
ton/ha (3,51-5,53 ton/ha), sedangkan produktivitas padi hibrida Hipa-3 hanya
4,8 ton/ha. Demplot varietas Inpari-1 diperoleh produktivitas 5,5-8,2 ton/ha
(rataan 6,6 ton/ha), budidaya tomat dan cabe merah, masing-masing meningkat
sebesar 7,11 % dan 57,14 %.
Berbeda
dengan budidaya tanaman, pada budidaya
ternak domba yang pada awalnya sebanyak 30 ekor berkembang menjadi
56 ekor selama 2 tahun, namun selama pemeliharaan kematian anak dan induk
cukup tinggi yaitu 31 ekor. Dalam perkembangannya, banyak program Kementerian
Pertanian terintegrasi dengan Prima Tani seperti SL-PTT, PUAP dan program
Pemda Provinsi/Kabupaten dan banyak bantuan dari mereka seperti bantuan
teknis budidaya kacang hijau, jagung, ternak kerbau dan sapi, itik petelur,
perbaikan saluran irigasi dan jalan usahatani, bantuan dana LUEP.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar