“Potensi,
Kekompakan, Kelembagaan yang kuat dan sinergitas antara instansi/lembaga
merupakan kunci sukses pembentukan kampung ternak domba. Bahkan Wamentan pun
investasi domba sebanyak 21 ekor.”
Kampung ternak domba
dibentuk sebagai wujud keprihatinan terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar
hutan. Tujuan utama dari program ini yaitu untuk membentuk masyarakat mandiri
sejahtera dengan cara menciptakan kegiatan atau usaha lain yang dapat
melestarikan hutan lindung di Kabupaten Pandeglang. Pencapaian tujuan ini
dilakukan dengan cara memberdayakan masyarakat-tani melalui peran kelembagaan
dan dukungan potensi yang ada di lokasi.
Tersebutlah
Kp.Cinyurup sebagai kampung ternak domba di Kabupaten Pandeglang. Sejak tahun
2009, tempat ini telah ditetapkan sebagai wilayah percontohan pengembangan
ternak domba terpadu. Lokasi ini berada di sekitar kawasan hutan lindung
Gunung Karang tepatnya di Kp.Cinyurup, Kelurahan Juhut, Kecamatan
Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang. Pemilihan lokasi pengembangan ternak
domba ini berdasarkan potensi yang dimiliki seperti sumber pakan hijauan yang
melimpah, pengalaman beternak domba, peluang pasar yang terbuka dan
kelembagaan kelompoktani yang berjalan baik. Selain itu, rehabilitasi hutan
lindung dan pengalihan usahatani merambah hutan menjadi sasaran akhir dari
kegiatan ini. Bagi masyarakat Kp.Cinyurup saat ini memelihara ternak domba
merupakan salah satu alternatif untuk menambah pendapatan keluarga. Kini
tercatat sebanyak 76 KK dari 317 KK adalah peternak domba.
BPTP Banten selama
tahun 2009 telah berhasil mengidentifikasi beberapa jenis hijauan yang
terdapat di lokasi dan berhasil mengintroduksi dan mengembangkan jenis
hijauan unggul untuk mendukung pengembangan ternak domba. Jenis hijauan pakan
yang ada sangat beragam dan banyak jenisnya. Terdapat 7 jenis rumput dan 28
jenis dedaunan sebagai sumber pakan yang teridentifikasi. Dampak dari
kegiatan ini yaitu telah berkembangnya jenis rumput unggul di lahan petani
dan perhutani seperti rumput gajah seluas 6,5 ha dan leguminose
kaliandra seluas 20 ha. Selain itu jumlah petani kooperator yang mengadopsi
inovasi sekitar 60% dari jumlah peternak.
Dengan
diterapkannya inovasi budidaya hijauan pakan ternak maka waktu
mencari rumput menjadi lebih efesien. Menurut mereka waktu mencari
rumput/pakan ternak menjadi lebih singkat yaitu 15 menit dari sebelumnya
sekitar 1 jam. Berdasarkan luas lahan hijauan yang ada diperkirakan 20.000 –
30.000 ekor ternak domba bisa tertampung di lokasi ini.
Pahit manisnya
beternak domba telah dirasakan oleh mereka. Berawal dari 275 ekor domba yang
tercatat awal tahun 2009, kini telah bertambah menjadi 1500 ekor dengan
penambahan kelompok ternak dari 5 menjadi 9 kelompok. Hal ini tidak lepas
dari peran serta pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan ternak domba
berupa bantuan ternak domba sebanyak 204 ekor dan dukungan teknis lainnya.
Banyak investor yang terlibat termasuk Wamentan telah menginvestasikan domba
sebanyak 21 ekor.
Selain itu dengan
adanya kelembagaan kelompoktani yang dinamis sangat mendukung bagi
pengembangan hijauan pakan ternak dan pertambahan populasi ternak domba. Kini
mereka sangat bergairah untuk mengembangkan jenis rumput unggul (rumput
gajah) sebagai sumber pakan di lahan-lahan mereka.
Timbulnya kesadaran
masyarakat untuk berkelompok dimulai pada tahun 2006 dengan membentuk
kelompok tani 'Karya Mandiri' dengan jumlah anggota yang masih sedikit.
Kelompok tani ini dijadikan sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan
usahatani mereka. Dalam perkembangannya, keanggotaan kelompok bertambah
banyak sehingga sekarang telah terbentuk sebanyak 4 kelompok tani yaitu
kelompok tani Karya Mandiri, Taruna Mandiri, Jaya Mandiri dan Bina Mandiri.
Kegiatan pertemuan rutin dilakukan setiap minggu yaitu pada hari Kamis dengan
didampingi oleh petugas lapang (PPL) dan petugas dari instansi lain (dinas).
Dalam pertemuan tersebut dibahas mengenai permasalahan, teknis budidaya,
rencana pengembangan, dan pemasaran usahatani-ternak. Dalam pembinaan
kelompok kami selalu menerapkan kemandirian kelompok dalam setiap kegiatannya
yaitu dengan cara meningkatkan kegiatan swadaya dalam kelompok.
Untuk mendukung
pengembangan ternak domba tersebut maka disusunlah suatu sistem kerjasama
yang diterapkan menggunakan sistem perguliran yang diatur melalui suatu
perjanjian dan difasilitasi oleh Disnakkeswan Kabupaten Pandeglang. Dimana
setiap 1 ekor ternak yang diterima, peternak berkewajiban mengembalikan 2
ekor ternak dengan kondisi dan umur yang sama dengan ternak yang diterima
pertama kali untuk digulirkan selama 3 tahun pemeliharaan.
Sampai saat
ini telah berhasil digulirkan 13 ekor domba kepada peternak lain dan
telah terjadi pengembangan ternak di 2 tempat lainnya yaitu Kp.Ciodeng dan
Kp.Balangendong. Adapun jenis domba yang dikembangkan yaitu domba Garut dan
domba komposit (komposit Sumatera, komposit Garut dan Barbados Cross). Ketiga
jenis domba komposit tersebut merupakan hasil inovasi teknologi dari
Balitnak, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian RI. Adanya
perkembangan yang positif yang terlihat dari pertambahan populasi ternak
domba, dukungan sumber pakan ternak, dukungan pemerintah dan keinginan
masyarakat untuk maju, maka pengembangan ternak domba di kampung ternak ini
sangat mungkin untuk diwujudkan. Untuk mempersiapkan pertambahan populasi
domba maka lebih lanjut perlu adanya pengembangan tanaman hijauan pakan
ternak (rumput/leguminose pohon) di lahan lain dengan konsep konservas
Sadar akan
keterbatasan pemerintah dalam pembiayaan dan pembinaan maka diharapkan ada
peran pihak lain untuk mendukung keberhasilan pembangunan ini. Guna
mempercepat pengembangan ternak domba di lokasi kami mengundang peran swasta
baik perorangan maupun kelompok atau lembaga pemodal yang difasilitasi oleh
lembaga pengelola melalui konsep kerjasama yang diatur dengan suatu
perjanjian yang saling menguntungkan. Konsep kerjasama yang kami tawarkan
yaitu pemberdayaan masyarakat dan lingkungan bagi kesejahteraan bersama.
Sampai saat ini sudah ada beberapa investor swasta perorangan yang akan
menyimpan investasi di lokasi.
Keberhasilan
pembentukan kampung ternak domba terpadu tidak terlepas dari peran serta
kelembagaan yang mulai diinisiasikan sejak awal dengan membentuk Pokja
Kampung Ternak yang melibatkan Balitnak, BPTP Banten, Distanak Provinsi,
Dishutbun Provinsi, Disnakeswan Kabupaten Pandeglang, Perum Perhutani, LSM
Kopling, Kelurahan Juhut dan kelompok masyarakat. Melalui proses yang panjang
dan berliku, sosialisasi terus dilakukan untuk mendapatkan dukungan yang
lebih luas dari stake holder yang berkepentingan bagi pengembangan kampung
ternak domba ini. Kini pengembangan kampung ternak domba terpadu merupakan
kegiatan sinergitas beberapa instansi pemerintah. Sampai saat ini tercatat
ada 14 lembaga/instansi yang berperan didalamnya seperti Balitnak, BPTP
Banten, Distanak Provinsi Banten, BP3KH Provinsi Banten, BKPD Provinsi
Banten, Balitbangda Provinsi Banten, Perum Perhutani Provinsi Banten,
Dishutbun Provinsi Banten, Disnakkeswan Kabupaten Pandeglang, Distanbun
Kabupaten Pandeglang, Kantor Penyuluh dan Ketahanan Pangan
Kabupaten Pandeglang, LSM Kopling, Kelurahan Juhut dan Bank
Indonesia.
Tidak hanya itu,
wilayah ini juga dijadikan tempat studi banding petani Banten dan luar
Banten. Kunjungan Wamentan, Wagub, Bupati, DPRD, SKPD Provinsi/Kab dan
masyarakat lainnya. Sekalian dijadikan arena outbond karena lokasinya yang
menanjak dan jalannya jelek, namun sekarang sudah ada perbaikan jalan. BI
Kab. Serang sedang melakukan penelitian pemasaran dan pola pembiayaan
pengembangan kampung ternak domba ini.
Dengan
mempertahankan proses yang dinamis selama ini serta adanya dukungan
pendampingan dan pembinaan oleh petugas, Lurah Juhut Aan Suwandi berkeyakinan
bahwa pada tahun 2013 Kelurahan Juhut akan menjadi daerah yang mandiri
sejahtera. Kami harapkan dengan adanya dukungan dan keterlibatan berbagai
pihak dalam pembangunan melalui pemberdayaan dapat mempercepat terjadinya
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Semoga semua yang dicita-citakan bersama
dapat terwujud dan terlaksana dengan baik.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar