|
Oleh: Kardiyono,STP.MSi dan Syahrizal Mutakin, STP
Senin, 04 Maret 2013 20:00
“Permintaan bibit dan gula aren terus meningkat setelah Gapoktan mandiri
mendapat binaan dan sentuhan teknologi dari BPTP Banten”
Tanaman aren (Arenga
pinnata Merr) merupakan salah satu komoditas unggulan di Provinsi
Banten serta sebagai sumber ekonomi 13.000 orang petani. luas tanaman aren di
Provinsi Banten lebih kurang 1.348 ha yang tersebar di kabupaten Lebak dan
Pandeglang. Jenis panaman palma ini mempunyai keunggulan yang tidak
dimiliki oleh tananam lain yaitu (a) mengandung kadar gula tinggi (10 - 15%),
(b) tanaman mampu tumbuh pada kemiringan lebih 40ยบ dan dapat beradaptasi
dengan baik pada berbagai jenis tanah (c) seluruh bagian tanaman dapat
dimanfaatkan dan memiliki nilai jual seperti ijuk untuk penjernihan air,
batang untuk dibuat pati (orang banten menyebutnya aci), buah untuk dibuat
kolang-kaling dan nira untuk dijadikan gula. Umumnya bagian tanaman yang
dimanfaatkan secara terus menerus yaitu gula merah baik yang berbentuk gula
cetak maupun gula semut. Sedangkan bagian lain dimanfaatkan pada waktu
tertentu seperti kolang kaling pada saat hari raya idul fitri, batang
untuk dijadikan aci.
Pertambahan luas
areal atau populasi tanaman aren setiap tahun tergolong rendah (< 5%)
demikian juga dengan produksi gula yang dihasilkan (1.217 ton per tahun).
Gula aren yang dihasilkan untuk memenuhi permintaan lokal banten dan Jakarta
serta sebagian kecil untuk eksport. Permintaan gula terus mengalami
peningkatan tetapi sebaliknya produktivitas cenderung stagnan. Konsumen
gula semut cenderung mengalami peningkatan yang sangat tinggi baik baik pasar
lokal (super market) maupun ekport. Dengan demikian peluang agribisnis aren
sangat prospektif dan perlu didukung agar dapat memberikan keuntungan bagi
petani dan pelaku usaha lainnya. Beberapa usaha yang dilakukan BPTP Banten
untuk mendorong pengembangan agribisnis aren adalah melakukan pengkajian di
Kabupaten Lebak pada aspek (1) pembibitan tanaman aren (2) teknologi
penanganan pasca panen dan pengolahan gula.
Teknologi Pembibitan
Tanaman Aren
Usahatani tanaman
aren dilakukan masih bersifat tradisional terlihat dari cara penyediaan bibit
dan penanaman aren. Tanaman aren yang tumbuh bukan ditanam oleh petani
melainkan dilakukan oleh binatang ketika memakan biji aren. Oleh karena itu
tanaman tumbuh menjadi tidak teratur dengan jumlah tanaman bervariasi antara
10 – 20 pohon per hektar. Rendahnya jumlah tanaman setiap hektar berpengaruh
terhadap kemampuan penyadapan setiap petani. Saat petani mampu menyadap nira
aren maksimal 10 tanaman per hari. Perbaikan cara budidaya dari
tradisional yang tergantung dari binatang ke arah lebih maju diharapkan
dapat meningkatkan produksi aren dan efesiensi usahatani aren. Idealnya
jumlah tanaman setiap hektar berkisar 70 – 100 pohon sehingga mempu menyadap
nira 30 pohon / hari. Salah satu langkah yang dilakukan untuk merubah cara
budidaya tradisional yaitu dengan melakukan introduksi teknologi pembibitan
kepada petani aren.
Teknologi Pembibitan
tanaman aren meliputi seleksi buah aren dari tanaman unggul, pelunakan kulit
aren dengan diperam, pengupasan kulit, persemaian biji, dan penanaman pada
polybag. Pembibitan aren membutuhkan waktu sekitar 1 tahun dan kemudian
tanaman siap untuk di pindahkan ke lapangan. Teknologi pembibitan aren yang
diintroduksikan kepada petani telah diterapkan Gapoktan Mandiri, Desa Barunai
Kecamatan Cihara Kabupaten Lebak. kegiatan pembibitan telah membuka pemikiran
petani dalam usahatani aren yang bersifat tradisional ke arah lebih maju.
Melalui pembibitan populasi tanaman aren per hektar mengalami peningkatan
dari 10 – 20 pohon diarahkan menjadi 70 – 100 pohon. Dengan demikian ke depan
akan terjadi peningkatan produksi gula dan efisiensi tenaga kerja dalam
penyadapan. Sesuai dengan sasaran pengkajian Gapoktan Mandiri berhasil
membuka usaha pembibitan aren dalam rangka pemenuhan kebutuhan bibit aren
yang di programkan pemerintah. Bibit aren hasil pembibtan gapoktan telah
digunakan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Banten untuk pengembangan aren
di Kabupaten Lebak. Pembibitan aren di gapoktan juga telah mendorong
beberapa unit kerja untuk dijadikan lokasi studi antara lain Balai
Latihan Pegawai Kehutanan Sumatera Utara.
Teknologi Pasca Panen
dan Pengolahan Aren
Salah satu
permasalahan pada pengolahan gula aren antara lain rendahnya mutu nira karena
belum efektifnya bahan pengawet yang di gunakan pada penyadapan sehingga mutu
gula yang dihasilkan masuk katagori sedang hingga rendah. Berkaitan dengan
hal tersebut maka dilakukan pengkajian penggunaan bahan pengawet mnggunakan
asap cair dan melakukan inovasi penambahan jahe pada pembuatan gula semut.
Pengawetan nira dengan menggunakan asap cair merupakan alternatif guna
penyediaan pengawet alami untuk menggantikan akar kawao, kulit manggis yang
jumlahnya semakin terbatas. Hasil penelitian menunjukan bahwa asap cair
memiliki kemampuan sebagai pengawet yang cukup prospektif terlihat dari mutu
nira hasil penyadapan. Jika mutu nira tinggi maka gula yang dihasilkan
akan bermutu tinggi pula.
Petani merespon
cukup tinggi terhadap penggunaan asap cair sebagai bahan pengawet karena
dapat mempertahankan mutu nira dan asap cair dapat diproduksi sendiri dengan
mengolah tempurung yang tersedia cukup melimpah kawasan pengkajian.
Gula yang dihasilkan dengan menggunakan asap cair memberikan hasil
lebih baik dibandingkan dengan bahan pengawet yang biasa digunakan ditandai
dengan warna, kekerasan dan kadar gula. Inovasi teknologi pembuatan
gula semut dengan penambahan jahe telah memberikan harapan untuk meningkatkan
keuntungan dari usahatani gula semut jahe.
Produk hasil inovasi
telah di promosilkan pada berbagai even pameran baik lokal di Provinsi Banten
maupun di Jakarta (Jakarta covensen center) dalam rangka membuka pasar dan
jalinan usaha kemitraan juga kunjungan Gubernur dan Bupati. Respon pengunjung
sangat tinggi terhadap inovasi teknologi hasil pengolahan gula aren dengan
indikator meningkatnya pesanan kebutuhan pada mitra yang dilakukan melalui
kerjasama dengan Gapoktan. Sinergitas terjadi dengan BKPD Prov. Banten dengan
menjadikan lokasi ini sebagai desa Mandiri Pangan, dan Dinas Perkebunan
memfasilitasi peralatan pembibitan dan pasca panen aren.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar